Kamis, 04 Juni 2015

Manusia sebagai mahluk sosial “pendidikan keluarga dan sekolah”

Manusia, sebagai mahluk sosial sudah fitrahnya selalu berdampingan dengan satu orang dan orang lainnya. Dunia ini terlalu luas, kebutuhan banyak, dan keinginan tidak terbatas. Dalam pemenuhan semua itu, tidak mungkin satu orang menghadapi semuanya. Manusia pun tidak mungkin akan berkembang jika ia hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ia harus mengenal manusia lainnya berbeda jenis, dan mulai mengikat diri dengan orang lain.
Sosial identik dengan kehidupan orang banyak. Orang banyak berarti banyak karakter, kebudayaan, status, jabatan dan keahlian. Menghadapi banyak orang juga memerlukan kemampuan tersendiri, agar perasaan tidak selalu bersinggungan. Agar kehidupan sosial berjalan dengan teratur dan nyaman, maka didalamnya dibuat sebuah kelompok. Dalam kelompok tersebut di tentukan siapa yang akan memimpin, menentukan aturan agar kelompok dapat berjalan dengan baik. Dalam penentuan ketua kelompok juga harus dibutuhkan metode tersendiri agar satu orang dengan orang lainnya tidak merasa dirugikan atau merasa tidak adil atas keputusan tersebut. Salah satu cara memilih pemimpin dalam sebuah kelompok adalah dengan menentukan bersama-sama mulai dari menentukan indikator apa saja yang diperlukan untuk sosok pemimpin.


Sosial juga berarti tentang bagaimana kita saling berhubungan antara satu orang dengan orang lainnya, setelah adanya aturan agar berjalan dengan teratur dan baik. Dibutuhkan juga rasa simpati dan empati didalam masyarakat. Agar setiap orang dalam kelompok masyarakat merasa saling kenal, dihargai, dan mampu meringankan beban orang lain atau beban bersama secara bersama-sama. Berkaitan dengan kesulitan dalam masyarakat, rasa simpati dan empati sangat memliki peran yang besar. Aksi solidaritas dan bakti sosial sangat membantu mengurangi beban yang ditanggung oleh suatu masyarakat. Bahkan, pemerintah telah mewajibkan kepada seluruh perusahaan besar yang ada di Indonesia untuk melakukan CSR (Coorporate Sosial Responsibiliy). CSR yang dilakukan oleh perusahaan pun bermacam-macam bentuknya ada yang langsung berupa bakti sosial, ada juga yang terhadap lingkungan seperti gerakan seribu pohon.


Sekolah, dalam melaksanakan tugasnya tergolong pada lembaga pendidikan formal merupakan tempat berlangsungnya proses belajar untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sisem pendidikan nasional pembelajaran disekolah hendaknya memiliki fungsi dan tujuan yang mengacu pada pendidikan nasional. Dalam kaitan ini sekolah hendaknya berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam hubungannya dengan pendidikan, lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertana dan utama, berlangsung secara wajar dan informal, serta lebih dominan melalui media permainan. Keluarga merupakan dunia anak yang pertama yang memberikan sumbangan mental dan fisik terhadapnya. Dalam keluarga anak lambat laun membentuk konsepsi tentang pribadinya baik tepat maupun kurang tepat. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengidentifikasi dirinya denga kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya. Fungsi sosialisasi menunjukkan peran keluarga dalm membentuk kepribadian anak. Pola asuh yang dilaksanakan dalam keluarga sangat berperan dalam pembentukan pribadi anak. Dalam menentukan pola asuh, harus dilandasi oleh kasi sayang yang merupakan alat pendidkan, sehimgga potensi anak dapat berkembang sewajarnya. Pola asuh yang digunakan dalam keluarga juga harus memperhatikan perkembangan anak itu sendiri.