Sikap
Secara umum,
pengertian sikap (attitude) adalah perasaan, pikiran, dan
kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenal
aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen-komponen sikap adalah
pengetahuan. perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam pengertian
yang lain, sikap adalah kecondongan evaluatif terhadap suatu objek atau subjek
yang memiliki konsekuensi yakni bagaimana seseorang berhadap-hadapan dengan
objek sikap. Tekanannya pada kebanyakan penelitian dewasa ini adalah perasaan
atau emosi. Sikap yang terdapat pada diri individu akan memberi
warna atau corak tingkah laku ataupun perbuatan individu yang bersangkutan.
Dengan memahami atau mengetahui sikap individu,
dapat diperkirakan respons ataupun perilaku yang akan diambil oleh individu
yang bersangkutan.
Sikap
dapat juga diartikan sebagai pikiran dan perasaan yang mendorong kita
bertingkah laku ketika kita menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Sedang sikap
sendiri mengandung tiga komponen yaitu : kognisi, emosi dan perilaku serta bisa
konsisten dan bisa juga tidak. Tergantung permasalahan apa yang mereka hadapi. Kraus
menemukan beberapa faktor yang memprediksi konsistensi sikap dan perilaku
seseorang yaitu: stabil sepanjang waktu, dilakukan dengan keyakinan yang
tinggi. konsisten dengan reaksi emosi seseorang ke arah perilaku, terbentuk
karena pengalaman langsung, mudah diingat.
Para ahli
juga banyak menyumbangkan pengertian sikap. Berikut ini pengertian sikap
dari beberapa ahli:
- Notoatmodjo S. (1997): Sikap adalah reaksi atau respons yang masih tertutup dan seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
- Bimo Walgito, (2001): Sikap adalah organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berpenilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Meski ada
begitu banyak pengertian sikap, yang pasti, dalam berbagai ulasan
tentang sikap selalu ditemui beberapa konstruksi yang relatif tetap, berkaitan
dengan jenis, dimensi, dan hierarki sikap. Umumnya, ada tiga jenis sikap
manusia:
- Kognitif, yang berkaitan dengan apa yang dipelajari, tentang apa yang diketahui tentang suatu objek;
- Afektif, atau sering disebut faktor emosional, yang berkaitan dengan perasaan (bagaimana perasaan tentang objek);
- Psikomotorik atau konatif, yakni perilaku (behavioral) yang terlihat melalui predisposisi suatu tindakan.
Motivasi
Motivasi adalah suatu
dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk
mencapai tujuan tertentu. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti
"dorongan" atau rangsangan atau "daya penggerak" yang ada
dalam diri seseorang. Menurut Weiner (1990) yang dikutip Elliot et al.
(2000), motivasi didefenisikan sebagai kondisi internal yang
membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu,
dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu. Menurut Uno (2007),
motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri
seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan
kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan. Motivasi adalah
sesuatu apa yang membuat seseorang bertindak (Sargent, dikutip oleh Howard,
1999) menyatakan bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang
dengan situasi yang dihadapinya (Siagian, 2004).
Motivasi
menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan
kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik
disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2003). Motivasi seseorang dapat
ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri-intrinsik dan dari
lingkungan-ekstrinsik (Elliot et al., 2000; Sue Howard, 1999). Motivasi
intrinsik bermakna sebagai keinginan dari diri sendiri untuk bertindak tanpa
adanya rangsangan dari luar (Elliott, 2000). Motivasi intrinsik akan lebih
menguntungkan dan memberikan keajegan dalam belajar. Motivasi ekstrinsik
dijabarkan sebagai motivasi yang datang dari luar individu dan tidak dapat
dikendalikan oleh individu tersebut (Sue Howard, 1999). Elliott et al. (2000),
mencontohkannya dengan nilai, hadiah, dan/atau penghargaan yang digunakan untuk
merangsang motivasi seseorang.
Misalnya,
dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan daya penggerak yang menjamin
terjadinya kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan
belajar sehingga tujuan yang diinginkan dapat terpenuhi. Dengan demikian
motivasi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang. Apabila seseorang
tidak mempunyai motivasi untuk belajar, maka orang tersebut tidak akan mencapai
hasil belajar yang optimal. Untuk dapat belajar dengan baik di perlukan proses
dan motivasi yang baik, memberikan motivasi kepada pembelajar, berarti
menggerakkan seseorang agar ia mau atau ingin melakukan sesuatu.
Mawas Diri
|
Mawas diri
adalah perbuatan mulia. Bila kita mawas diri maka banyak pertanyaan yg
timbul, misalnya :
· Siapa sebenarnya saya ini?
· Apakah kemampuan yang ada pada
diri saya ?
· Wajarkah hasil-hasil yang saya
peroleh selama ini ?
Dan masih banyak sekali pertanyaan yang kesemuanya
harus dijawab dengan pemikiran yang sehat dan jujur. Semakin banyak
pertanyaan- pertanyaan maka akan semakin kita menelaah hidup ini. Semakin ba
nyak terlihat ada hal-hal yang tidak baik yang telah kita lakukan atau bahwa
ada pandangan atau pendirian kita yang tidak baik sehingga hasrat-hasrat
terhadap kebendaan akan berkurang. Tanpa kita sadari maka dengan mawas diri
kita akan menjadi manusia yang bermental kuat.
Mawas diri hanya dapat dilakukan oleh orang-orang
yang mempunyai pemikiran dewasa. Pemikiran dewasa adalah pemikiran yang
obyektif yaitu tidak dipengaruhi oleh perasaan / emosi atau kepentingan diri
sendiri, orang-orang yang selalu mawas diri akan tampak dalam perilaku
sehari-hari dimanapun ia berada. Mereka akan lebih senang mengeluas dada
daripada menepuk dada. Mereka akan lebih senang tersenyum
daripada membentak orang atau mengebrak meja.
Pengembangan ilmu atau pengalaman saja tanpa
disertai pengembangan jiwa tidak akan tumbuh. Tanpa dukungan ilmu atau
pengalaman juga sulit untuk mengangkat seseorang menjadi kokoh. Tokoh-tokoh
yang hebat adalah orang-orang yang berjiwa besar dan berbudi luhur serta
ditopang oleh kemampuan ilmu dan pengalaman yang cukup.
Jiwa merupakan kemampuan batin sebagai paduan antara
pikiran dan perasaan seseorang. Jiwa besar adalah jiwa yang berpandangan luas
dan selain melihat kebelakang juga melihat kedepan. Budi adalah perilaku yang
baik dan budi luhur adalah perbuatan yang baik dari seseorang demi
kepentingan orang lain atau orang banyak kendatipun dia harus mengorbankan
kepen tingan dirinya sendiri.
Jiwa besar dan budi luhur hanya dimiliki oleh
orang-orang bermawas diri. Untuk membangun jiwa ini maka pertama-tama kita
harus mau mawas diri, akuilah secara jujur )didalam batin kita) mengenai kelakuan-kelakuan
dan perbuatan-perbuatan kita yang selama ini kurang baik walaupun perasaan
kita menentangnya. Kuasailah perasaan-perasaan kita dengan kekuatan pemikiran
kita. Dengan membiasakan cara mawas diri ini maka kita mulai mendewasakan
pemikiran kita. Bila hal ini sering kita lakukan dalam hidup sehari-hari,
maka akan semakin terbukalah bagi kita bahwa selama ini banyak sekali
kekeliruan-kekeliruan yang telah kita lakukan. Dan setelah kita mengetahui
letak-letak kekeliruan ini, hama harus segera kita perbaiki. Bila kita sedang
menghadapi suatu masalah dan harus segera menentukan sikap, baik terhadap
diri sendiri maupun terhadap orang lain, maka usahakanlah pemecahannya agar
selalu didasarkan pada pemikiran-pemikiran obyektif. Hindarkan pengaruh perasaan/emosi,
karena hal ini seringkali akan menghasilkan keputusan-keputusan yang kurang
bijaksana. Dengan mawas diri maka secara berangsur-angsur pada jiwa kita akan
tertanam rasa solidaritas, toleransi, rendah diri, menghormati orang lain.
Dan lain-lain.
|
Sumber :