Sabtu, 08 November 2014

Sikap, Motivasi, dan Mawas Diri


Sikap

Secara umum, pengertian sikap (attitude) adalah perasaan, pikiran, dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenal aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen-komponen sikap adalah pengetahuan. perasaan-perasaan, dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam pengertian yang lain, sikap adalah kecondongan evaluatif terhadap suatu objek atau subjek yang memiliki konsekuensi yakni bagaimana seseorang berhadap-hadapan dengan objek sikap. Tekanannya pada kebanyakan penelitian dewasa ini adalah perasaan atau emosi. Sikap yang terdapat pada diri individu akan memberi warna atau corak tingkah laku ataupun perbuatan individu yang bersangkutan. Dengan memahami atau mengetahui sikap individu, dapat diperkirakan respons ataupun perilaku yang akan diambil oleh individu yang bersangkutan.


Sikap dapat juga diartikan sebagai pikiran dan perasaan yang mendorong kita bertingkah laku ketika kita menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Sedang sikap sendiri mengandung tiga komponen yaitu : kognisi, emosi dan perilaku serta bisa konsisten dan bisa juga tidak. Tergantung permasalahan apa yang mereka hadapi. Kraus menemukan beberapa faktor yang memprediksi konsistensi sikap dan perilaku seseorang yaitu: stabil sepanjang waktu, dilakukan dengan keyakinan yang tinggi. konsisten dengan reaksi emosi seseorang ke arah perilaku, terbentuk karena pengalaman langsung, mudah diingat.

Para ahli juga banyak menyumbangkan pengertian sikap. Berikut ini pengertian sikap dari beberapa ahli:
  • Notoatmodjo S. (1997): Sikap adalah reaksi atau respons yang masih tertutup dan seseorang terhadap suatu stimulus atau objek.
  • Bimo Walgito, (2001): Sikap adalah organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berpenilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Meski ada begitu banyak pengertian sikap, yang pasti, dalam berbagai ulasan tentang sikap selalu ditemui beberapa konstruksi yang relatif tetap, berkaitan dengan jenis, dimensi, dan hierarki sikap. Umumnya, ada tiga jenis sikap manusia:
  • Kognitif, yang berkaitan dengan apa yang dipelajari, tentang apa yang diketahui tentang suatu objek;
  • Afektif, atau sering disebut faktor emosional, yang berkaitan dengan perasaan (bagaimana perasaan tentang objek);
  • Psikomotorik atau konatif, yakni perilaku (behavioral) yang terlihat melalui predisposisi suatu tindakan.

Motivasi 


Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti "dorongan" atau rangsangan atau "daya penggerak" yang ada dalam diri seseorang. Menurut Weiner (1990) yang dikutip Elliot et al. (2000), motivasi didefenisikan sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu. Menurut Uno (2007), motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan. Motivasi adalah sesuatu apa yang membuat seseorang bertindak (Sargent, dikutip oleh Howard, 1999) menyatakan bahwa motivasi merupakan dampak dari interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya (Siagian, 2004).

Motivasi menjadi suatu kekuatan, tenaga atau daya, atau suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2003). Motivasi seseorang dapat ditimbulkan dan tumbuh berkembang melalui dirinya sendiri-intrinsik dan dari lingkungan-ekstrinsik (Elliot et al., 2000; Sue Howard, 1999). Motivasi intrinsik bermakna sebagai keinginan dari diri sendiri untuk bertindak tanpa adanya rangsangan dari luar (Elliott, 2000). Motivasi intrinsik akan lebih menguntungkan dan memberikan keajegan dalam belajar. Motivasi ekstrinsik dijabarkan sebagai motivasi yang datang dari luar individu dan tidak dapat dikendalikan oleh individu tersebut (Sue Howard, 1999). Elliott et al. (2000), mencontohkannya dengan nilai, hadiah, dan/atau penghargaan yang digunakan untuk merangsang motivasi seseorang.

Misalnya, dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan daya penggerak yang menjamin terjadinya kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang diinginkan dapat terpenuhi. Dengan demikian motivasi sangat berpengaruh terhadap hasil belajar seseorang. Apabila seseorang tidak mempunyai motivasi untuk belajar, maka orang tersebut tidak akan mencapai hasil belajar yang optimal. Untuk dapat belajar dengan baik di perlukan proses dan motivasi yang baik, memberikan motivasi kepada pembelajar, berarti menggerakkan seseorang agar ia mau atau ingin melakukan sesuatu. 

Mawas Diri

Mawas diri adalah perbuatan mulia. Bila kita mawas diri maka banyak pertanyaan yg timbul, misalnya :
·         Siapa sebenarnya saya ini?
·         Apakah kemampuan yang ada pada diri saya ?
·         Wajarkah hasil-hasil yang saya peroleh selama ini ?
Dan masih banyak sekali pertanyaan yang kesemuanya harus dijawab dengan pemikiran yang sehat dan jujur. Semakin banyak pertanyaan- pertanyaan maka akan semakin kita menelaah hidup ini. Semakin ba nyak terlihat ada hal-hal yang tidak baik yang telah kita lakukan atau bahwa ada pandangan atau pendirian kita yang tidak baik sehingga hasrat-hasrat terhadap kebendaan akan berkurang. Tanpa kita sadari maka dengan mawas diri kita akan menjadi manusia yang bermental kuat.
Mawas diri hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pemikiran dewasa. Pemikiran dewasa adalah pemikiran yang obyektif yaitu tidak dipengaruhi oleh perasaan / emosi atau kepentingan diri sendiri, orang-orang yang selalu mawas diri akan tampak dalam perilaku sehari-hari dimanapun ia berada. Mereka akan lebih senang mengeluas dada daripada  menepuk dada. Mereka akan lebih senang  tersenyum daripada membentak orang atau mengebrak meja.
Pengembangan ilmu atau pengalaman saja tanpa disertai pengembangan jiwa tidak akan tumbuh. Tanpa dukungan ilmu atau pengalaman juga sulit untuk mengangkat seseorang menjadi kokoh. Tokoh-tokoh yang hebat adalah orang-orang yang berjiwa besar dan berbudi luhur serta ditopang oleh kemampuan ilmu dan pengalaman yang cukup.
Jiwa merupakan kemampuan batin sebagai paduan antara pikiran dan perasaan seseorang. Jiwa besar adalah jiwa yang berpandangan luas dan selain melihat kebelakang juga melihat kedepan. Budi adalah perilaku yang baik dan budi luhur adalah perbuatan yang baik dari seseorang demi kepentingan orang lain atau orang banyak kendatipun dia harus mengorbankan kepen tingan dirinya sendiri.
Jiwa besar dan budi luhur hanya dimiliki oleh orang-orang bermawas diri. Untuk membangun jiwa ini maka pertama-tama kita harus mau mawas diri, akuilah secara jujur )didalam batin kita) mengenai kelakuan-kelakuan dan perbuatan-perbuatan kita yang selama ini kurang baik walaupun perasaan kita menentangnya. Kuasailah perasaan-perasaan kita dengan kekuatan pemikiran kita. Dengan membiasakan cara mawas diri ini maka kita mulai mendewasakan pemikiran kita. Bila hal ini sering kita lakukan dalam hidup sehari-hari, maka akan semakin terbukalah bagi kita bahwa selama ini banyak sekali kekeliruan-kekeliruan yang telah kita lakukan. Dan setelah kita mengetahui letak-letak kekeliruan ini, hama harus segera kita perbaiki. Bila kita sedang menghadapi suatu masalah dan harus segera menentukan sikap, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, maka usahakanlah pemecahannya agar selalu didasarkan pada pemikiran-pemikiran obyektif. Hindarkan pengaruh perasaan/emosi, karena hal ini seringkali akan menghasilkan keputusan-keputusan yang kurang bijaksana. Dengan mawas diri maka secara berangsur-angsur pada jiwa kita akan tertanam rasa solidaritas, toleransi, rendah diri, menghormati orang lain. Dan lain-lain.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar