
Bogor, 15 Agustus 2015 keamanahan, kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan seseorang terlihat. Pagi itu, di Sekolah Alam Bambu Item kami yang disatukan dalam ikatan persaudaraan Islam saling menunggu saudara-saudarinya agar utuh dan kuat ikatannya. Kami berdatangan ke tempat yang sebelumnya belum pernah kami datangi. Ntah karena kewajiban atau keinginan menuntut ilmu kaki itu mampu berjalan kesana dari gelapnya pagi hingga muncul kepermukaan cahaya mentari. Dari tempat itu senang atau tidak senang, semuanya penuh dengan pengalaman yang luar biasa yang akan tertanam dan terkenang didalam hati bagi setiap jiwa yang mau melangkah.
16 Agustus 2015, hari kedua dan
hari terakhir kesempatanku dalam mengambil banyak pelajaran ditempat tersebut.
Pelajaran yang terakhir adalah tentang bagaimana mengelola antara kebutuhan dan
keinginan. Minggu pagi itu, kami semua dikumpulkan dihalaman sekolah alam bambu
item. Ka Mufid selaku MT menyampaikan bahwa kami para calon Badan Pengurus Harian
(BPH) Sharia Economic Forum (SEF)
Universitas Gunadarma, mendapatkan tantangan yang berkatan dengan kebutuhan dan
keinginan.
09.20 Minggu, 16 Agustus 2015,
kami diberikan tantangan untuk mendapatkan uang disekitar daerah sekolah alam berapapun jumlahnya tanpa
uang sepersen pun yang kami punya. Tantangan tersebut diberikan waktu 1 jam
hingga pukul 10:20. Dari 24 CBPH kami dibuat 8 kelompok dengan masing-masing
kelompok terdiri dari 3 orang. Kami tidak diizinkan untuk membantu yang lainnya
mendapatkan uang kecuali diri sendiri sudah mendapatkan uang. Kami juga tidak
diizinkan memasuki sekolah alam sebelum kelompoknya lengkap.
Tepat pukul 09.20, kami keluar
dari sekolah alam untuk menyelesaikan tantanan tersebut. Kami semua terdiam
dalam pencarian tersebut sambil berfikir “Apa yang harus aku lakukan dan di mana
tempatnya ?”. Mungkin, hampir semua dari kami memikirkan hal tersebut. Saat pertama
kali keluar dari sekolah alam, aku melihat seorang nenek sedang menurunkan barang
dagangannya, spontan aku menghampiri dan berfikir untuk membantunya, namun
nenek itu masih merasa bingung dengan tawaran yang aku berikan dan menolak
tawaranku. Aku pun bergegas mencari jalan lain untuk mendapatkan uang. Ketika jalan
ada seorang bapak-bapak sedang memindahkan pasir ke mobil, terlintas dalam
pikiran “Haruskah bekerja keras dengan memindahkan pasir?” lalu pikiranku
menjawab lagi “Jump of the box, seorang ekonom punya banyak cara untuk
mendapatkan uang”. Akhirnya, pekerja itu pun aku lewati begitu saja. Aku melihat
saudaraku yang lain masih berjalan pada jalan yang mereka cari tanpa ada
kepastian. Lalu aku melihat seorang ibu-ibu sedang menjemur pakaian, aku pun
langsung menghampiri ibu tersebut dan menawarkan pekerjaan kepada beliau. Namun,
sayangnya ibu itu baru saja rapih dari semua pekerjaan rumahnya.
Akhirnya aku melihat sebuah toko
sembako, aku berfikir untuk menjual makanan dan minuman yang ada ditoko
tersebut dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi sebagai keuntungannya. Ku
hampiri toko tersebut dan menjelaskan maksudku, tapi sayang orang yang menjaga
toko tersebut bukanlah pemilik tokonya. Pemilik tokonya sedang berbelanja ke
pasar dan tak ada waktu lagi bagiku untuk menunggunya kembali dari pasar. 3 hal
telah aku tempuh dengan berbagai penolakan, namun masih ada satu toko lagi
disana. Akhirnya di toko terakhir tersebut, aku bisa menjual makanan dan
minuman darinya. Aku menawari daganganku semua orang, mulai dari kumpulan para
pemancing, orang yang sedang berbelanja ditoko, penjaga toko, hingga ke pejalan
kaki.
Penolakan dan penerimaan ku
dapati semua dihari itu, hingga hasil yang ku terima dari 0 menjadi 32.500. Uang
tersebut InsyaAllaah akan disalurkan untuk dana sosial. Alhamdulillah, Allaah
selalu punya cara terbaik untuk mendidik hambanya melalui keluarga SEF. Dari tantangan
tersebut, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil.
Hidup adalah tentang bagaimana
kita memenuhi kebutuhan dan keinginan. Namun, hidup bukan hanya tentang
pemenuhan kebutuhan dan keinginan saja. Tetapi juga tentang bagaimana
memenuhinya dengan cara seefektif dan seefisien mungkin. Dengan tantangan
tersebut yang aku sebut tantangan 10:20, aku menyadari bahwa kita harus banyak
bersyukur dan berterima kasih kepada Allah dan orang-orang yang telah berkerja
keras untuk kehidupan kita. Semoga Allaah menjadikan kita semua hambanya yang
pandai bersyukur. Aamiin
Alhamdulillaah, Jazakumullah Khayraan keluarga surgaku
Sharia Economic Forum (SEF)
Universitas Gunadarma, atas pelajaran tentang hidup, atas setiap ilmu dan
didikannya yang mungkin tak terbalas olehku. Semoga Allaah membalas kebaikan kalian dan
meninggikan derajat kalian. Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar