Adalah Karl Albrecht, SJ, (19 April 1929 - 11 September
1999) kelahiran Altusried, Augsburg, Jerman Selatan, ditugaskan ke Indonesia
pada Desember 1958 di Girisonta, Jawa Tengah. Tahun 1959 kemudian pindah ke
Jakarta bertugas di Tanjung Priok kemudian pindah lagi ke Semarang pada tahun
1960 sampai 1961.
Sebagai bentuk
kesadaran Gereja Katolik terhadap pentingnya pemberdayaan ekonomi rakyat, KWI
(Konferensi Waligereja Indonesia, waktu itu bernama Majelis Agung Waligereja
Indonesia - MAWI, menugaskan Pastor Albrecht (Delegatus Sosial Keukupan Agung
Jakarta) dan sejawatnya Frans Lubbers, OSC (Delegatus Sosial Keuskupan Bandung)
mengembangkan Credit Union dengan semua Delegatus Sosial Keuskupan.
Dimulai dari Lembaga
para iman Jesuit, SELA (Socio Economic Life in Asia) menyelenggarakan sebuah
seminar panjang di Bangkok tahun 1963 dengan pembicara para imam dan awam dari
Amerika, Eropa dan Philipina.. Seminar yang bertajuk Community Development and
Credit Union inilah yang menjadi tonggak awal ide pengembangan Credit Union di
Indonesia. Seminar tersebut dihadiri
oleh Karl Albrecht SJ, John Dijkstra SJ, Frans Lubbers, OSC dan dari masyarakat
awam hadir FX. Bambang Ismawan, Nico Susilo dan Sumitro.
Sekembalinya mereka dari seminar tersebut tidak serta-merta
langsung mendirikan Credit Union. Setelah 2 tahun menjalani pergumulan, Ikatan
Petani Pancasila memulainya dengan membentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan
Pinjam pada tahun 1965 (ketika FX. Bambang Ismawan menjadi Ketua Umum Ikatan
Petani Pancasila). Kelompok usaha serupa banyak berkembang di Jawa Tengah, Jawa
Timur dan Lampung.
Walaupun Credit Union
belum juga didirikan, namun seminar-seminar Credit Union terus dilaksanakan,
seperti di Bandung tahun 1968 dan Sukabumi tahun 1969 oleh Frans Lubbers,
OSC. Akhirnya pastor Albrecht mengundang
CUNA (The Credit Union National Association (USA) secara resmi pada tahun 1967,
untuk memperkenalkan gerakan Credit Union ke Indonesia. Saat itu hadir A.A.
Bailey mewakili CUNA dan Augustine R. Kang, manager ACCU (The Asian
Confederation of Credit Union) dalam upaya membentuk CUCO (Credit Union
Conseling Office) di Indonesia.
Pembentukan CUCO ini melewati proses yang panjang, karena
harus dilakukan kajian kelayakan apakah Credit Union dapat dikembangkan di
Indonesia. Pada tahun 1969 Pastor John Collins, SJ melakukan kajian kelayakan
dan memberikan kesimpulan, Credit Union dianggap layak untuk dikembangkan
dengan syarat 5 tahun masa inkubasi. Lalu pada tanggal 4 Januari 1970, Pater
Albrecht membentuk Credit Union Counselling Office (CUCO) yang beralamat di
Jalan Gunung Sahari N0. 88 Jakarta (kini menjadi kantor INKOPDIT). Keberadaan
CUCO ini menjadi embrio gerakan Credit Union di Indonesia.
Berkat dukungan
Dirjen Koperasi (saat itu Ir. Ibnoe Soedjono) akhirnya Credit Union layak untuk
dikembangkan bahkan Ibnoe Soedjono menjadi Ketua Dewan Penyantun CUCO yang
beranggotakan Raden Mas Margono Djoyohadikusumo (pendiri BNI 46), Prof. Dr.
Fuad Hasan (Guru besar psikologi yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan &
Kebudayaan), Mochtar Lubis (wartawan dan satrawan), Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ
(Pendiri Lembaga Pendidikan & Pengembangan Manajemen), A.J. Sumandar, John
Dijkstra, SJ dan Pater Albrecht, SJ sendiri.
Tahun 1971, Pastor
Albrecht menyerahkan karya sosial ekonomi dan jabatan direktur pengelola CUCO
kepada Robby Tulus, karena beliau mendapat tugas lain sebagai biarawan.
Walaupun perangkat organisasi sudah ada, Credit Union secara resmi baru
berjalan pada tahun 1976 setelah terbentuk Biro Konsultasi Koperasi Kredit (BK3).
Pada Konferensi Nasional Koperasi Kredit Indonesia pada tahun 1981, nama CUCO
diubah menjadi “Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia” (BK3I) yang
akhirnya pada saat ini sudah sebut Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT).
Pastor Albrecht
menjadi warga Negara Indonesia berganti nama menjadi Karim Arbie. Tahun 1980,
Pastor Karim pernah bertugas di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok.
Tahun 1985 di Paroki Santa Anna[1], Duren Sawit, Jakarta Timur sampai 1990
kemudian bertugas di Timor-Timur pada usia 61 tahun. Tanggal 11 September 1999,
Pastor Karim tertembak orang tak dikenal saat melindungi para pengungsi yang
menderita di Dilli, Timor-Timur.
Berdasarkan data dari INKOPDIT yang didapat dari
www.cucoindo.org.[3] Pada tahun 2011, tercatat 930 CU/Kopdit dengan anggota
1.808.329 total simpanan Rp. 11.025.939.918.193, total Pinjaman Rp.
9.701.758.278.010 dengan total seluruh asset sebesar Rp. 12.823.819.299.565.
Dari perjalanan sejarah Credit Union di Indonesia, inilah
nama-nama Inisiator gerakan awal Credit Union di Indonesia:
1.
Albrecht Karim Arbie, SJ
2.
Robby Tulus
3.
Ir. Ibnoe Soedjono
4.
John Collins, SJ
5.
Raden Mas Margono Djoyohadikusumo
6.
Prof. Dr. Fuad Hasan
7.
Mochtar Lubis
8.
Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ
9.
A.J. Sumandar,
10.
John Dijkstra, SJ
11.
FX. Bambang Ismawan
12.
Frans Lubbers, OSC
13.
Nico Susilo
14.
Sumitro
15.
FX. Susanto
16.
Hubertus Woeryanto
17.
Theodorus Trisna Ansarli.
18.
A.C. Lunandi
19.
Suharto Nazir
20.
Sukartono
Sumber : http://www.klikcreditunion.com/sejarah-cu/sejarah-di-indonesia/51-pelopor-cu-indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar